Aku masih terduduk di
atas tempat tidurku, memandangi kaca jendela yang masih mengembun, sisa hujan
semalam. Meskipun sinar matahari mulai mengintip-ngintip dari celah petala
langit, aku tak jua ingin beranjak dari sini. Seolah, aku ikut membeku sedingin
udara di luar sana.
Aku selalu merasa
bahwa kesendirian adalah teman. Meskipun aku memiliki keluarga yang utuh, tapi
kasih sayang mereka tak pernah utuh untukku. Mereka seperti tak pernah
menganggap kehadiranku di dunia ini, tak pernah memperhatikan apa yang
kulakukan.
Namaku Vivi. Aku
sudah duduk di kelas VIII. Aku telah berkali-kali pindah sekolah lantaran
stempel “nakal” telah menempel jelas di keningku. Hingga akhirnya Ayah
memasukkanku ke SMP Tunas Jaya, sekolah kesekian yang akhirnya mau menampung
siswa dengan prediket kelakuan D.
Sementara adik
lelakiku, Dika, dia mendapatkan sekolah dan fasilitas terbaik dari Ayah. Hal
inilah yang menjadi pemicu rasa benciku kepadanya. Meskipun aku mengakui bahwa
dia adik yang menarik dan baik, tapi aku sudah telanjur benci. Semua tingkahnya
tak pernah terlihat baik bagiku. Seperti Ayah memperlakukanku.
RSS Feed
Twitter





